Apa itu Deep Sea Mining

apa itu deep sea mining

Penambangan Bawah Laut atau yang biasa disebut dengan istilah Deep Sea Mining adalah proses pengambilan mineral yang relatif baru, proses penambangan ini dilakukan di lantai samudera. Situs penambangan samudra umumnya terletak di kawasan nodul polimetalik atau celah hidrotermal aktif serta punah yang kedalamannya mencapai 1.400 – 3.700 meter di bawah permukaan laut.

Jenis-jenis tambang yang ada di laut ini cukup beragam, mulai dari batubara, minyak bumi, gas alam, dan timah.

Badan pemerintah Indonesia yang melakukan bidang geologi kelautan di seluruh wilayah laut Indonesia adalah PPPGL (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan).

Penyelidikan dan pemetaan geologi kelautan pada beberapa tahun ini semakin ditingkatkan, terutama pada pencarian sumber daya mineral yang memiliki nilai strategis dan ekonomis dalam menunjang pembangunan bangsa.

Hal itu dilakukan karena semakin mengurangnya sumber daya mineral dan energi yang ada di darat. Kegiatan ini adalah perwujudan serta tanggung jawab pemerintah dalam menggali potensi Sumber Daya Mineral dan energi yang ada di bawah laut.

Ada beberapa tempat yang menjadi wilayah pertambangan bawah laut, mulai dari kawasan pantai, perairan pantai sampai ke batas terluar landas kontinen, dan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif).

Potensi Tambang Bawah Laut di Indonesia

Di negara kita ini, penambangan bawah laut belum pernah dilakukan. Sejarah mencatat, penambangan batubara bawah laut sudah pernah dilakukan oleh Pemerintah Jepasng di Pulau Ikeshima.

Pulau Ikhesima berada di 255 km Ohaja Kamiura Ikeshimakyo, Sotomecho Nishisonogi-gun, Nagasaki Prefecture. Atau sekitar 7 km ke arah barat di lepas pantai dari pantai barat semenanjung Nishisonogi.

Ukuran pulau tersebut adalah dari utara-selatan 1,0 km, timur-barat 1,5 km. Sedangkan untuk keliling pulau mencapai 4,0km dan luas mencapai 0,86 km2. Jumlah konsensi tambang mencapai 70, dengan luas 35,500 ha.

Negara Indonesia mempunyai 60 cekungan minyak dan gas bumi, 60 cekungan tersebut diperkirakan bisa menghasilkan 84,48 miliar barrel minyak. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan berada di lepas pantai, sedangkan 14 cekungan berada di pesisir pantai.

Walaupun negara Indonesia mempunyai cadangan minyak dan gas bumi yang cukup besar, namun lokasi cekungan tersebut berada di perairan yang terpencil. Bahkan saat ini masih ada sekitar 22 cekungan yang belum dieksplorasi kandungannya.

Dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di laut, tentu mempunyai keuntungan dan kerugian bagi alam maupun bagi manusia itu sendiri. Sehingga penambangan bawah laut mempunyai peraturan perundang-undangan yakni UU Minerba tahun 2014, sehingga pengelolaannya bisa berkelanjutan.

Dengan diberlakukannnya pasar bebas AFTA, maka akan ada beberapa perusahaan asing yang akan berkompetisi di Indonesia untuk mendapatkan ladang tersebut. Salah satu langkah antisipasi yang bisa dilakukan adalah memberikan sertifikasi bagi tenaga ahli serta akreditasi bagi fasilitas kerya yang dimiliki supaya kemampuannya bisa diakui di dunia internasional.

Artikel ini sudah tayang di https://ilmutambang.com

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *